
(Sumber: Humas UNJ)
Jakarta — Halo, Edufriend! Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ) kembali menyelenggarakan International Conference on Innovation, Reflection, and Creativity in Arts, Literature, and Language Education (I-CIRCALLED) pada Rabu (14/10/2026). Memasuki penyelenggaraan kedua, konferensi internasional ini mengangkat tema “Human Creativity and Sustainable Futures: Transforming Arts, Literature, Language, and Education for an Inclusive and Equitable World”. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik mengenai peran kreativitas manusia dalam mengembangkan seni, sastra, bahasa, dan pendidikan demi mewujudkan masa depan yang berkelanjutan serta menjunjung inklusivitas dan keadilan.
Konferensi yang berlangsung di Aula Latief Hendraningrat, Kampus A UNJ, ini dilaksanakan secara luring dan daring. Sejumlah akademisi dan praktisi dari dalam maupun luar negeri turut hadir untuk bertukar wawasan dan pengalaman dalam menghadapi perkembangan teknologi serta berbagai tantangan global.
Kreativitas Manusia di Tengah Perkembangan Teknologi
Dekan FBS UNJ, Samsi Setiadi, menjelaskan bahwa I-CIRCALLED merupakan konferensi tahunan yang menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan praktik akademik bagi dosen, peneliti, serta praktisi di bidang seni, sastra, bahasa, dan pendidikan.
“Perkembangan zaman dan dinamika era digital menuntut kita untuk melakukan hal-hal yang berbeda, mengikuti perkembangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, pembahasan konferensi mencakup berbagai isu, mulai dari kreativitas dalam seni dan sastra, transformasi sosial, multilingualisme, keadilan linguistik, hingga pengembangan pendidikan inklusif melalui pedagogi kreatif. Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta kreativitas digital yang tetap berpusat pada manusia juga menjadi bagian penting dalam diskusi.
I-CIRCALLED 2026 diikuti oleh 111 peserta, dengan 104 peserta berasal dari Indonesia dan peserta lainnya dari Malaysia, Thailand, Filipina, serta Tanzania. Samsi berharap kegiatan ini dapat memperkuat kolaborasi internasional antara akademisi, pendidik, dan praktisi dalam mengembangkan kontribusi seni, sastra, bahasa, dan pendidikan bagi masyarakat.

(Sumber: Humas UNJ)
Apresiasi turut disampaikan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ, Prof. Ifan Iskandar. Ia menilai konferensi ini sebagai ruang untuk bertukar gagasan sekaligus merespons berbagai persoalan global, seperti ketimpangan akses pendidikan, konflik kemanusiaan, perubahan iklim, krisis pangan dan air, serta perkembangan teknologi yang memengaruhi dunia kerja dan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, perubahan tersebut menuntut dunia akademik untuk terus berinovasi tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kita perlu terus berinovasi dan mengembangkan pengetahuan untuk merespons perubahan zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar kehidupan bersama,” ujarnya.
Prof. Ifan juga berharap konferensi ini dapat menghasilkan rekomendasi ilmiah, mendorong transfer keahlian, mengembangkan pendidik muda yang peduli terhadap lingkungan, serta memperluas penyebaran hasil pemikiran akademik kepada masyarakat internasional.
Lima Pembicara Internasional Hadirkan Perspektif Beragam

(Sumber: Humas UNJ)
I-CIRCALLED 2026 menghadirkan lima pembicara utama dari berbagai institusi nasional dan internasional. Masing-masing pembicara membawa perspektif berbeda mengenai kreativitas, bahasa, seni, budaya, dan perkembangan teknologi.
Prof. Tamir Sa’ad Ibrahim dari Suez Canal University, Mesir, memaparkan pemanfaatan teknologi AI generatif untuk membantu pembelajar bahasa Arab yang bukan penutur asli memahami tata bahasa melalui pendekatan linguistik komputasional. Materinya berjudul “Generative AI Technology in Formal Grammar for Arabic Learners of Non-Native Speakers: The Indonesian Model—A Computational Linguistic Study”.
Dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Yasraf Amir Piliang membahas hubungan antara kreativitas manusia dan algoritma melalui materi “Human and Algorithmic Creativity: A Challenge for Sustainable Futures”. Pembahasan ini menyoroti perbedaan karakteristik kreativitas manusia dan algoritmik serta tantangan penggunaan teknologi dalam mendukung kreativitas pada masa depan.

(Sumber: Humas UNJ)
Sementara itu, Assoc. Prof. Philippe Grangé dari La Rochelle Université, Prancis, mengangkat isu keberagaman bahasa melalui paparan “Why France Lost Its Linguistic Diversity and How Indonesia Is Maintaining It”. Materinya membahas perubahan keberagaman bahasa di Prancis dan upaya Indonesia dalam mempertahankan bahasa daerah, termasuk pentingnya kebijakan bahasa untuk menjaga kekayaan linguistik.
Perspektif lain disampaikan oleh Prof. Madya Dr. Hishamudin Isam dari Universiti Utara Malaysia melalui materi “The Architecture of Human Creativity: Language, Meaning, Culture, and Artificial Intelligence for Sustainable Futures”. Ia mengulas hubungan bahasa, makna, budaya, dan AI dalam membentuk kreativitas manusia, sekaligus menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan budaya di tengah kemajuan teknologi.

(Sumber: Humas UNJ)
Pembicara kelima, Jeong Ok Jeon selaku Direktur ARCOLABS, Korea Selatan, mempresentasikan “Curating Relationships for Equitable and Sustainable Futures: Case Study of Ars Electronica’s Festival Walk in Linz”. Melalui studi kasus Festival Walk dalam Ars Electronica di Linz, ia membahas peran karya seni dalam membangun hubungan antara manusia, lingkungan, tempat, sejarah, institusi, dan teknologi. Paparan ini juga menekankan pentingnya interaksi sosial, kesetaraan, dan partisipasi dalam membentuk makna sebuah karya seni.
Kelima perspektif tersebut menunjukkan bahwa kreativitas tidak hanya berkaitan dengan penciptaan karya, tetapi juga mencakup pemanfaatan teknologi, pelestarian bahasa dan budaya, serta pembangunan hubungan sosial yang lebih setara.
Mendorong Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
Melalui penyelenggaraan I-CIRCALLED ke-2 tahun 2026, FBS UNJ terus memperkuat perannya dalam menghadirkan forum akademik bertaraf internasional. Konferensi ini menjadi kesempatan bagi para akademisi dan praktisi untuk memperluas jejaring, bertukar pengetahuan, serta mengembangkan gagasan yang relevan dengan tantangan masa kini.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi bidang seni, sastra, bahasa, dan pendidikan dalam membangun masyarakat yang inklusif, berkeadilan, serta berorientasi pada keberlanjutan.
Nah, Edufriend, perkembangan teknologi dan tantangan global menunjukkan bahwa kreativitas manusia tetap memiliki peran penting dalam membentuk masa depan. Yuk, terus kembangkan kreativitas, perkaya wawasan, dan dukung inovasi yang tetap mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan demi masa depan yang lebih berkelanjutan!
Writer: Luthfiyyah Nur Rizky
Editor: Tim News Director








