
(Sumber: Instagram @synchronizefest)
Jakarta — Halo, Edufriend! Hari ketiga Synchronize Fest 2026 diramaikan dengan deretan penampilan spesial dari musisi lintas genre. Rangkaian hari ketiga dibuka oleh Nadhif Basalamah di District Stage. Pada waktu yang bersamaan, XYZ Stage memulai pertunjukannya melalui Sisitipsi, menandai dimulainya kembali kemeriahan Synchronize Fest 2026.
Tak hanya membuka rangkaian pertunjukan, Nadhif Basalamah juga mengajak penonton berdoa bersama demi keselamatan warga dan wilayah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ajakan tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi bencana tersebut.

(Sumber: Instagram @synchronizefest)
Di XYZ Stage, vokalis Sisitipsi, Fauzan atau yang biasa disapa Ojan ini, juga turut mengajak ribuan penonton untuk mengheningkan cipta dan berdoa bersama bagi keselamatan masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang terdampak kabut asap dan karhutla. Seruan tersebut memperlihatkan bagaimana panggung musik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan solidaritas terhadap masyarakat yang menghadapi bencana.
Memasuki waktu menjelang malam, Dynamic Stage menghadirkan Vierratale, sementara Forest Stage menyuguhkan penampilan Indra Lesmana melalui Little Things from the Heart. Kedua panggung tersebut menghadirkan warna musik berbeda dalam rangkaian hari ketiga.
Indra Lesmana Hadirkan Kolaborasi Bersama Sejumlah Musisi

(Sumber: Instagram @synchronizefest)
Melalui Little Things from the Heart, Indra Lesmana menghadirkan kolaborasi bersama Eva Celia, Teza Sumendra, Monita Tahalea, dan Michael Jakarimilena. Pertunjukan tersebut turut melibatkan LLW, yang terdiri atas Barry Likumahuwa, Rafi Muhammad, Kyriz Boogieman, dan Andre Dinuth.
Selain menghadirkan kolaborasi musikal, Indra Lesmana dan Eva Celia turut memanfaatkan panggung Forest Stage untuk menyoroti kondisi darurat karhutla di Kalimantan. Eva Celia secara emosional mengingatkan penonton bahwa hutan merupakan penopang kehidupan yang tidak boleh dilupakan. Keduanya kemudian berkolaborasi dengan Teza Sumendra membawakan lagu “Jalinan Kasih”, diiringi visual kebakaran hutan serta hewan-hewan yang terdampak kabut asap. Perpaduan musik dan visual tersebut menghadirkan pesan mengenai pentingnya menjaga hutan serta memperhatikan dampak kerusakan lingkungan terhadap kehidupan manusia dan satwa.
Setelah penampilan Vierratale dan Indra Lesmana, rangkaian pertunjukan berlanjut dengan Swellow Bernyanyi Bersama Bray-Bray di Forest Stage. Segmen ini mempertemukan Bin Harlan, The Cottons , Jimmy Multazam, Henry Foundation, Techa Aurelia, Ratta Bill, dan Jo Soegono. Sementara itu, XYZ Stage menghadirkan Basboi x Pak Joko.
Reality Club x Phum Viphurit Hadirkan Kolaborasi Spesial

(Sumber: Instagram @synchronizefest)
Setelah malam tiba, District Stage kembali diramaikan oleh J-Rocks. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian hadir melalui kolaborasi Reality Club x Phum Viphurit, musisi indie asal Thailand. Kolaborasi ini mempertemukan karakter musik keduanya dalam satu pertunjukan spesial.

(Sumber: Instagram @synchronizefest)
Sementara itu, Forest Stage menghadirkan Isyana Sarasvati. Ia kemudian kembali terlibat dalam The Best of 80’s Indonesian Pop Kreatif, bersama Ardhito Pramono, Teddy Adhitya, Teza Sumendra, Agatha Pricilla, Ify Alyssa, dan Sivia, dengan iringan musik dari Nikita Dompas di District stage.
Reggae Gang hingga Endank Soekamti Ramaikan Panggung

(Sumber: Instagram @synchronizefest)
District Stage kemudian menghadirkan Duo Maia. Pada waktu yang berdekatan, Forest Stage menyuguhkan Reggae Gang yang melibatkan Day Afternoon, Dhyo Haw, Momonon, Sejedewe, Uncle Djink, dan Fahmi Aziz, bersama sejumlah penampil lainnya. Segmen ini membawa nuansa reggae ke tengah keberagaman musik hari ketiga.
Di waktu yang hampir bersamaan, XYZ Stage menyuguhkan C’mon Lennon sebelum District Stage kembali diramaikan oleh Endank Soekamti.
.Feast Suarakan Isu Karhutla Lewat Membangun & Menghancurkan

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Dynamic Stage menghadirkan .Feast & Co yang membawakan album Membangun & Menghancurkan. Dalam penampilan tersebut, .Feast menyampaikan kritik sosial melalui visual dan pesan yang disampaikan kepada penonton. Saat membawakan lagu “Tarian Penghancur Raya”, layar panggung menampilkan visual kebakaran hutan yang megah sekaligus mencekam.
Di sela pertunjukan, Awan selaku bassist .Feast menegaskan bahwa asap tersebut menggambarkan kondisi nyata yang terjadi di Kalimantan, bukan sekadar efek visual panggung. Momen tersebut semakin emosional ketika .Feast membawakan lagu “o,Tuan” dan mengajak ribuan penonton mengheningkan cipta untuk mengenang para korban yang meninggal dunia akibat kabut asap karhutla serta dampak kesalahan kebijakan.
Beragam Musisi Tutup Rangkaian di Tiap Panggung

(Sumber: Instagram @synchronizefest)
Menjelang akhir festival, Endank Soekamti menjadi salah satu penampil yang menutup rangkaian di District Stage. Sementara itu, Dynamic Stage menghadirkan Timur Basudara bersama Anadok, Bringin Home, DJ Desa, Ecko Show, Fahmy Fay, Faris Adam, Jacson Zeran, Silet Open Up, Toton Caribo, dan Vendetta Rap sebagai penutup di dynamic stage.
Di Forest Stage, The Adams menjadi penampil penutup, sedangkan XYZ Stage mengakhiri rangkaian pertunjukannya melalui Poris Vault Gang. Berbagai penampilan tersebut menandai berakhirnya rangkaian musik di masing-masing panggung.
Pop Samping Jadi Penutup Synchronize Fest 2026

(Sumber: Instagram @synchronizefest)
Sebagai penutup keseluruhan rangkaian Synchronize Fest 2026, Dipha Barus menghadirkan Pop Samping bersama Matter Mos. Pertunjukan ini semakin spesial dengan keterlibatan Naykilla, Reality Club, Swellow, dan The Adams.
Kolaborasi tersebut mempertemukan musisi dari berbagai karakter musik dalam satu pertunjukan penutup. Kehadiran mereka menjadi bagian dari perayaan yang merangkum keberagaman skena musik selama tiga hari penyelenggaraan Synchronize Fest 2026.

(Sumber: Instagram @synchronizefest)
Dari kolaborasi Reality Club dan Phum Viphurit hingga Pop Samping bersama Dipha Barus, hari ketiga Synchronize Fest 2026 menghadirkan beragam pengalaman musik yang mempertemukan berbagai genre dan generasi. Di tengah kemeriahan tersebut, kepedulian para musisi terhadap isu karhutla turut memperlihatkan bahwa panggung musik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan solidaritas terhadap masyarakat terdampak sekaligus mengangkat persoalan lingkungan.
Festival ini pun kembali menjadi ruang perayaan bagi keberagaman musik Indonesia sekaligus wadah bagi musisi untuk menyuarakan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
Sampai jumpa di Synchronize Fest tahun depan, Edufriend! Siap-siap buat ngerasain lagi energi musik tanpa batas dan mengeksplorasi musik Indonesia dengan semangat baru!
Writer: Ahmad Rizqi Syahputra
Editor: Tim News Director








