ERA FM UNJ Sedang Mengudara

UGP-GBIC Festival 2026 Jadi Ajang Mahasiswa Pamerkan Ide Bisnis Inovatif

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

DEPOK — Halo, Edufriend! UGPreneurs Gunadarma Business Idea Competition (UGP-GBIC) Festival 2026 telah digelar pada Sabtu (10/10/2026) di Auditorium D462 dan Plaza Gedung D, Kampus Universitas Gunadarma, Depok. Festival yang diselenggarakan oleh UKM Kewirausahaan UGPreneurs Universitas Gunadarma ini menghadirkan kompetisi ide bisnis tingkat nasional, talkshow kewirausahaan, serta bazaar dan expo.

Mengusung tema “Katalisator Perubahan: Mengintegrasikan Teknologi Berkelanjutan untuk Solusi Nyata Masyarakat”, UGP-GBIC Festival 2026 mendorong mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis inovatif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Rangkaian kegiatan ini juga mempertemukan kompetisi, edukasi kewirausahaan, dan pameran produk dalam satu festival.

20 Tim Finalis Berkompetisi Mengembangkan Ide Bisnis

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Dalam kompetisi ide bisnis, sebanyak 20 tim finalis mengikuti babak final melalui dua sesi pitching. Sebanyak 12 tim pertama mempresentasikan gagasan bisnis pada sesi pagi, sedangkan delapan tim lainnya melanjutkan presentasi setelah istirahat siang. Setelah seluruh presentasi selesai, dewan juri melakukan rekapitulasi nilai sebelum pengumuman pemenang dalam sesi penghargaan.

Kompetisi ini mencakup empat kategori, yaitu Kuliner (Makanan dan Minuman), Produk Kreatif dan Manufaktur, Jasa dan Pariwisata, serta Teknogi dan Bisnis Digital. Setiap tim hanya diperbolehkan mendaftar pada satu kategori yang sesuai dengan gagasan bisnisnya.

Kategori Kuliner mendorong pengembangan produk makanan dan minuman berbasis pangan kal, dengan memperhatikan kreativitas, nilai gizi, dan kemasan ramah lingkungan. Sementara itu, kategori Produk Kreatif dan Manufaktur mencakup kerajinan berkelanjutan, sw fashion, produk daur ulang, serta manufaktur skala kecil yang mengutamakan proses produksi bertanggung jawab.

Pada kategori Jasa dan Pariwisata, peserta didorong menghadirkan inovasi layanan yang memanfaatkan potensi kal dan teknogi digital untuk meningkatkan pengalaman pengguna serta memberikan manfaat bagi komunitas. Adapun kategori Teknogi dan Bisnis Digital berfokus pada pengembangan aplikasi, platform perdagangan elektronik, solusi Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan inovasi teknogi lainnya yang menawarkan solusi nyata bagi masyarakat.

Daksin Tim UNJ Raih Juara 1 Nasional Kategori Jasa dan Pariwisata

(Sumber: unj.ac.id)

Salah satu prestasi dalam UGP-GBIC Festival 2026 diraih oleh Daksin Tim dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Tim tersebut berhasil meraih Juara 1 Nasional Kategori Jasa dan Pariwisata melalui gagasan aplikasi pariwisata inklusif yang dirancang untuk memudahkan wisatawan penyng disabilitas dalam merencanakan dan menikmati perjalanan wisata.

Daksin Tim terdiri atas Muhammad Fachri Akbar dari Program Studi Teknogi Pendidikan sebagai ketua tim, serta Nasha Nuradilla dan Radhina Alikha dari Program Studi Administrasi Perkantoran Digital. 

Gagasan tersebut mengangkat pemanfaatan teknologi untuk mendukung aksesibilitas dalam sektor pariwisata. Inovasi ini memanfaatkan teknologi untuk mempermudah akses wisata bagi penyandang disabilitas. Pencapaian Daksin Tim turut menunjukkan partisipasi mahasiswa UNJ dalam kompetisi kewirausahaan tingkat nasional.

Talkshow Kewirausahaan Bahas Riset dan Validasi Pasar

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Selain kompetisi, UGP-GBIC Festival 2026 menghadirkan talkshow kewirausahaan nasional yang membahas riset dan validasi pasar serta optimalisasi ekosistem digital berkelanjutan. Sesi pertama mengangkat topik “Riset dan Validasi Pasar” bersama Aidil Wicaksono, sedangkan sesi kedua membahas “Optimalisasi Ekosistem Digital Berkelanjutan” bersama Ma Isa mbu.

Aidil Wicaksono merupakan Managing Director Kaizen Room, lembaga pelatihan dan konsultasi di bidang komunikasi serta manajemen sumber daya manusia. Ia juga mengajar manajemen di Universitas Gunadarma dan aktif sebagai fasilitator, pelatih, serta mentor dalam berbagai program pengembangan kapasitas dan karier.

Dalam sesi pertama, pembahasan menyoroti pentingnya memahami masalah yang dihadapi masyarakat sebelum mengembangkan produk atau layanan. Riset pasar diperlukan agar can wirausahawan dapat mengenali kebutuhan konsumen, menentukan solusi yang relevan, serta menilai kelayakan sebuah gagasan untuk dikembangkan menjadi usaha.

Salah satu konsep yang dibahas adalah diferensiasi, yaitu upaya menciptakan karakteristik yang membedakan suatu produk dari produk lainnya. Gagasan ini dianagikan melalui konsep “sapi ungu”, yang menggambarkan pentingnya membuat produk lebih menonjol di tengah persaingan pasar.

Selain diferensiasi, pengembangan bisnis berkelanjutan juga dikaitkan dengan tiga aspek, yakni people, profit, dan planet. Ketiganya menekankan pentingnya mempertimbangkan manfaat bagi masyarakat, kelayakan ekonomi, serta dampak terhadap lingkungan dalam menjalankan usaha.

Aidil turut menekankan bahwa validasi pasar tidak cukup dilakukan dengan menglkan pujian atau ketertarikan can konsumen. Pelaku usaha perlu memperoleh bukti yang lebih konkret, termasuk kesediaan konsumen untuk membayar produk yang ditawarkan. Oleh karena itu, riset dan validasi diperlukan untuk memastikan bahwa produk yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan pasar.

Dalam proses tersebut, pendekatan TAM, SAM, dan SOM dapat digunakan untuk memahami cakupan pasar. TAM (Total Addressable Market) menggambarkan keseluruhan pasar potensial, SAM (Serviceable Available Market) menunjukkan bagian pasar yang dapat dijangkau oleh bisnis, sedangkan SOM (Serviceable Obtainable Market) merujuk pada bagian pasar yang realistis untuk diperoleh dalam periode tertentu.

Pembahasan juga menyoroti pentingnya memahami masalah sebelum terpaku pada solusi. Dengan melakukan riset dan menguji gagasan secara bertahap, can wirausahawan dapat mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti tren atau asumsi pribadi.

Sementara itu, sesi kedua menghadirkan Ma Isa mbu, seorang profesional di bidang kebijakan publik dan hubungan pemerintah (public policy and government relations), penggiat behavioral science, serta wirausahawan. Sesi ini mengangkat optimalisasi ekosistem digital berkelanjutan sebagai bagian dari pembahasan mengenai pengembangan kewirausahaan.

Kedua sesi talkshow tersebut menjadi bagian dari rangkaian edukasi festival yang mengangkat pentingnya pengembangan gagasan bisnis, pemahaman pasar, dan pemanfaatan teknogi dalam kewirausahaan.

Bazaar dan Expo Perkenalkan Beragam Produk

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Selain kompetisi dan talkshow, UGP-GBIC Festival 2026 menghadirkan bazaar dan expo di Plaza Gedung D. Area ini menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada pengunjung sekaligus membuka peluang interaksi dengan masyarakat kampus.

Berbagai produk ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari kuliner, fesyen, kerajinan tangan, hingga produk kecantikan kal. Sejumlah brand yang tercatat berpartisipasi antara lain Bunbueok by BunKhaila, Kaftarie, Bitenat, Kamarasa, Pekatan Batik, Queen Nara, Valeria Scarf, Ressencial, dan Kulma Art.

Kehadiran berbagai brand tersebut melengkapi upaya festival dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan. Selain menjadi sarana promosi produk, bazaar dan expo membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar dan membangun jejaring dengan komunitas kampus.

Rangkaian festival juga mencakup kuis interaktif dan pembagian doorprize bagi pengunjung. Setelah kompetisi dan berbagai kegiatan pendukung berlangsung, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang serta seremoni penghargaan sebelum ditutup pada sore hari

Mendorong Wirausahawan Muda yang Berkelanjutan

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

UGP-GBIC Festival 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Perpaduan kompetisi, edukasi kewirausahaan, dan pameran produk memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal berbagai aspek pengembangan usaha.

Melalui tema yang diusung, festival ini mendorong generasi muda untuk memanfaatkan teknogi dan inovasi sebagai sarana menghadirkan solusi atas permasalahan masyarakat. Pengembangan bisnis juga perlu mempertimbangkan kebutuhan pasar, kelayakan usaha, serta dampak sosial dan lingkungan agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Prestasi Daksin Tim dari Universitas Negeri Jakarta menjadi salah satu contoh bagaimana gagasan bisnis dapat dikembangkan dengan menggabungkan pemanfaatan teknogi dan kepedulian terhadap kebutuhan sosial. Pencapaian tersebut menunjukkan potensi mahasiswa dalam menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat lebih luas.

Melalui penyelenggaraan UGP-GBIC Festival 2026, pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa diharapkan dapat terus tumbuh dan melahirkan generasi wirausahawan muda yang kreatif, adaptif, serta mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Nah Edufriend, kalau lo punya kesempatan untuk mengembangkan ide bisnis, inovasi apa yang mau lo ciptakan supaya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat? 

 

Writer: Luthfiyyah Nur Rizky

Editor: Tim News Director