
(Sumber: Humas UNJ)
Jakarta — Halo, Edufriend! AI sekarang memang makin sering dipakai di dunia pendidikan. Tapi, apakah AI akan menggantikan peran manusia sepenuhnya? Pertanyaan itu dibahas dalam International Visiting Scholars Program 2026 yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (SPs UNJ). Kegiatan ini menghadirkan Associate Professor Ju Seong Lee dari The Education University of Hong Kong dan berlangsung pada Kamis (8/10/2026) di Ruang Rapat Lantai 5, Gedung Bung Hatta. Tema dari acara adalah “AI-Human Collaboration Models in Education“.
Sambutan untuk Tamu dari Hong Kong
Acara dibuka oleh Kepala Pusat Kerja Sama dan Internasional SPs UNJ, Prof. Setia Budi, yang mewakili Direktur SPd UNJ. Ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ju Seong Lee dan menilai kegiatan ini nantinya akan menajdi kesempatan bagi sivitas akademika UNJ untuk mendapat perspektif internasional tentang perkembangan AI di dunia pendidikan. Sebenarnya, ini bukan kunjungan pertama, karena sebelumnya Ju Seong Lee juga pernah dihadirkan sebagai visiting professor di SPs UNJ Prof. Setia Budi berharap materi yang disampai bisa memperluas wawasan peserta dan memantik diskusi mengenai pemanfaatan AI untuk menunjang pembelajaran.
Pemaparan Materi yang Menarik untuk Dikulik!

(Sumber: Humas UNJ)
Dalam paparannya, Ju Seong Lee menekankan bahwa diskusi tentang AI di pendidikan sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan, “apakah AI bisa menggantikan pekerjaan manusia?”. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pembagian peran antara manusia dan AI sesuai dengan sifat pekerjaannya.
Menurutnya, manusia dapat unggul dalam memahami konteks, mengenali masalah, menentukan prioritas, mengambil keputusan, dan memberi interpretasi. Sementara itu, AI bisa membantu pekerjaan yang berulang dan bersifat analitis, seperti mengolah data, mencari pola, dan analisis deskriptif. Ia menyebut bahwa AI memang dapat membantu menemukan pola dari data, tetapi manusialah yang akan memberi makna pada temuan tersebut.
Mulai dari Masalah, Bukan dari Teknologi
Untuk penelitian, Ju Seong Lee mengingatkan bahwa penelitian dimulai dari persoalan, bukan teknologi yang ingin dipakai. Langkahnya dimulai dari mengidentifikasi masalah, merumuskan tujuan dan pertanyaan penelitian, menentukan bukti yang dibutuhkan, baru kemudian memilih teknologi yang cocok. Dengan begitu, AI tidak berubah menjadi tujuan penelitian, tetapi membantu memecahkan masalah pendidikan.
Kolaborasi manusia dan AI bisa membuat proses penelitian jadi lebih menyeluruh. Ju Seong Lee juga merupakan menekankan pentingnya keterkaitan antara masalah penelitian, pertanyaan penelitian, instrumen, data, aktivitas pembelajaran, dan interpretasi hasil, supaya penelitian berjalan sistematis dan relevan.
Sesi Brainstorming dan Diskusi Bersama Peserta
Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi brainstorming dan diskusi bersama peserta. Sesi ini menjadi ruang bagi sivitas akademika UNJ dan peserta umum untuk bertukar pandangan dan memperdalam pemahaman tentang penerapan AI di pendidikan.
Lewat kegiatan ini, SPs UNJ terus memperkuat ruang pertukaran pengetahuan dan perspektif internasional dalam menanggapi perkembangan teknologi di bidang pendidikan. Kolaborasi manusia dan AI yang berangkat dari kebutuhan dan konteks pendidikan menjadi salah satu cara untuk memanfaatkan teknologi secara kritis, bertanggung jawab, dan bermakna.
Nah, Edufriend, lo sendiri udah pernah pakai AI untuk bantu tugas atau penelitian belum? Kalau udah, gunakan dengan bijak, ya!
Writer: Nayla Octaviani
Editor: Tim News Director








