Quarter-Life Crisis Bukan Tanda Gagal, Tapi Proses Mencari Arah

(Sumber: id.pinterest.com)

Halo, Edufriend! Pernah nggak sih lo merasa hidup di usia 20-an tuh serba nggak pasti? Di satu sisi lo pengen cepat punya hidup yang stabil, tapi di sisi lain malah sering merasa ragu, takut salah langkah, dan bingung harus mulai dari mana. Kalau iya, mungkin saat ini lo lagi mengalami kondisi yang dikenal sebagai quarter-life crisis. 

Quarter-life crisis biasanya muncul di masa awal dewasa, saat lo mulai banyak mikir soal hidup. Mulai dari pertanyaan “Sebenernya gue mau ke mana?”, “Pilihan hidup gue udah tepat belum?”, sampai “Kok orang lain kayaknya lebih dulu berhasil, ya?”. Buat Gen Z, fase ini makin terasa berat karena tiap hari lo disuguhin pencapaian orang lain lewat media sosial, yang tanpa sadar bikin lo membandingkan hidup lo sendiri dengan mereka.

Pemicu Adanya Quarter-Life Crisis

Edufriend, quarter-life crisis di kalangan Gen Z nggak muncul tiba-tiba. Ada banyak faktor yang saling numpuk dan akhirnya bikin lo merasa capek secara mental. Salah satu pemicu paling besar datang dari era digital itu sendiri. Setiap hari, Gen Z terus terpapar media sosial yang menampilkan pencapaian orang lain, kayak karier yang kelihatan sukses, hidup yang tampak rapi, atau standar kebahagiaan yang seolah harus dicapai secepat mungkin. Tanpa sadar, hal ini bikin kita sering ngebandingin hidup kita dan merasa kurang atau tertinggal. 

Selain itu, banjir informasi dan banyaknya pilihan hidup juga jadi pemicu utama, Edufriend. Pilihan karier dan jalan hidup yang makin beragam, justru kadang bikin bingung. Terlalu banyak opsi sering kali membuat Gen Z takut salah pilih dan akhirnya ragu buat melangkah. Ditambah lagi dengan budaya toxic productivity, dimana seseorang merasa harus selalu sibuk, produktif, dan berprestasi agar dianggap berhasil. Kalau lagi capek atau belum mencapai target tertentu, muncul rasa bersalah dan gagal. Tekanan untuk selalu produktif, cepat berhasil, dan memenuhi ekspektasi keluarga maupun lingkungan juga nambah beban mental. Semua hal ini akhirnya numpuk dan kita merasa capek, ragu, dan kehilangan arah. Quarter-life crisis bukan tanda lemah, tapi reaksi wajar dari tekanan hidup di era digital.

Buat mahasiswa atau fresh graduate, quarter-life crisis sering datang pas realita nggak sesuai ekspektasi. Dulu mungkin lo punya rencana hidup yang kelihatan jelas, tapi begitu masuk dunia nyata, semuanya jadi abu-abu. Cari kerja yang nyatanya nggak gampang, tekanan dari sekitar makin terasa, dan akhirnya lo mulai meragukan diri sendiri. Rasanya kayak lagi jalan, tapi lo nggak yakin arahnya ke mana.

Tips Menghadapi Quarter-Life Crisis

1. Menerima Diri Sendiri

Hal pertama yang Edufriend bisa lakukan adalah menerima diri sendiri. Quarter-life crisis nggak harus ribet atau penuh drama. Merasa bingung, capek, atau ragu itu wajar banget. Hidup nggak selalu lurus, dan lo nggak harus buru-buru sampai tujuan. Semua orang punya waktunya masing-masing.

2. Tetap Tenang dan Sabar, Semua Orang Punya Waktunya Masing-Masing

Kedua, pelan-pelan, coba deh lo tanya ke diri sendiri apa sih yang sebenarnya penting buat lo? Jangan selalu mengikuti standar sukses orang lain. Sukses versi gue jelas bisa beda sama sukses versi lo. Nggak harus langsung punya kerja tetap, penghasilan gede, atau hidup kelihatan sempurna. Bisa jadi, sukses itu saat lo hidup lebih tenang, nggak terus-terusan terbebani, dan masih punya ruang buat berkembang.

3. Jangan Hadapi Sendirian

Yang nggak kalah penting, inget lo itu nggak sendirian. Nggak apa-apa kok cerita ke teman, keluarga, atau orang yang lo percaya. Kadang, cuma didengarkan aja udah cukup bikin dada lebih lega. Kalau rasanya udah terlalu berat, minta bantuan profesional juga bukan hal yang memalukan, justru bukti kalau lo peduli sama kesehatan mental diri sendiri. Isi keseharian lo dengan hal-hal kecil yang bikin berkembang. Nggak perlu langsung langkah besar. Pelan-pelan aja, asal jalan. Karena langkah kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada diem di tempat sambil nyalahin diri sendiri.

Edufriend, quarter-life crisis bukan akhir segalanya, tapi justru dari fase inilah kita bisa lebih mengenal diri sendiri, belajar menerima kenyataan, dan mulai menyusun hidup dengan cara yang lebih jujur dan realistis. Buat Gen Z, ini bukan soal tersesat tapi tentang proses nyari jalan hidup yang paling pas buat diri sendiri.

Mulai capek ngejar standar sukses orang lain ya, Edufriend? Coba mulai definisikan ulang arti sukses versi lo.

 

 

Writer: Sekar Salsabila Permana Putri

Editor: TimNews Director