Puncak Kalpasastra 2026 Hadirkan Simfoni Makna Lewat Ragam Ekspresi Seni

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Jakarta– Halo, Edufriend! Siapa bilang sastra cuma hidup di halaman buku? Di Puncak Kalpasastra 2026, sastra justru “berpindah” ke banyak medium. Ada yang hadir lewat pembacaan puisi, ada yang dihidupkan melalui film, teater, musik, hingga musikalisasi puisi. Semuanya berpadu dalam tema “Simfoni Makna: Melintasi Batas Kata, Menuju Puncak Rasa”, menghadirkan pengalaman yang bukan hanya menarik untuk disaksikan, tetapi juga dirasakan. Di sini, sastra tak lagi dipandang sebagai kumpulan kata yang diam di atas kertas, melainkan terus bergerak, berkembang, dan menemukan cara baru untuk menyapa penikmatnya.

Kalpasastra 2026, Hadirkan Cerita Kreatif Takkan Terlupa

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Edufriend! Kalpasastra merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Program Studi (BEMP) Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta sebagai wadah untuk mengapresiasi sekaligus merayakan karya sastra melalui berbagai bentuk ekspresi seni. Tahun ini, rangkaian kegiatannya menghadirkan beragam perlombaan, seperti cipta cerpen, cipta puisi, dan baca cerpen, yang kemudian ditutup melalui acara puncak bertajuk “Simfoni Makna: Melintasi Batas Kata, Menuju Puncak Rasa.”  Dipimpin oleh Ketua Pelaksana Naufal Arsya Ananda bersama Ketua BEMP Sastra Indonesia Rifqu Latifah, acara ini menjadi ruang bertemunya mahasiswa, pegiat sastra, hingga penikmat seni dalam satu perayaan yang sama.

Digelar pada Sabtu (4/7) di Aula Bung Hatta Lt.2, Universitas Negeri Jakarta, Puncak Kalpasastra 2026 berhasil menghadirkan suasana yang hangat sekaligus penuh semangat. Bukan sekadar menyaksikan pertunjukan, peserta juga diajak menikmati pengalaman yang terasa lebih dekat dan personal. Mereka bisa berdiskusi tentang sastra, mengapresiasi karya, hingga larut dalam berbagai penampilan yang silih berganti sepanjang acara. Inilah yang membuat Puncak Kalpasastra terasa bukan hanya sebagai sebuah acara, tetapi juga ruang bertemu bagi siapa saja yang memiliki kecintaan terhadap sastra dan seni.

Area selasar Puncak Kalpasastra 2026 dipenuhi pameran buku, tenant makanan, photobooth, dan berbagai stan menarik lainnya.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Menariknya, keseruan acara tidak hanya terasa di dalam aula. Sebelum memasuki ruang utama, peserta lebih dulu disambut deretan stan yang memenuhi area selasar. Ada pameran buku, tenant makanan dan minuman, photobooth, hingga berbagai printilan lucu yang sayang untuk dilewatkan. Banyak peserta memanfaatkan waktu sebelum acara dimulai maupun saat jeda untuk berkeliling, berburu buku, menikmati jajanan, atau sekadar mengabadikan momen bersama teman-temannya. Nggak sedikit juga yang memilih bersantai di area ini sebelum kembali menikmati rangkaian acara berikutnya.

Pembacaan Puisi Penuh Penghayatan oleh Nida Syamila

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Setelah pewara membuka acara dengan meriah serta sambutan dari Ketua Pelaksana, Ketua BEMP Sastra Indonesia, dan Koordinator Program Studi Sastra Indonesia, panggung beralih kepada Nida Syamila yang membawakan puisi Kamus Kecil karya Joko Pinurbo. Seketika, riuhnya aula berubah menjadi hening. Dengan penghayatan yang kuat dan vokal yang lantang, Nida berhasil membawa peserta larut ke dalam setiap bait puisi yang dibacakannya. Selama beberapa menit, perhatian seluruh peserta seolah tertuju pada setiap kata yang mengalun dari atas panggung. Penampilan tersebut menjadi pembuka yang tepat sebelum memasuki sesi Gelar Wicara, sekaligus membuktikan bahwa sastra mampu menghadirkan pengalaman yang begitu magis bagi para penikmatnya.

Salman Aristo membagikan pandangannya mengenai adaptasi karya sastra dalam Gelar Wicara Puncak Kalpasastra 2026.

Sesi yang paling dinantikan pun akhirnya tiba. Gelar Wicara (acara bincang-bincang (talkshow))  menghadirkan Salman Aristo, sutradara sekaligus penulis skenario, yang dipandu oleh moderator Nashwa Kembang. 

Bagi pecinta film Indonesia, nama Salman Aristo tentu sudah tidak asing lagi. Alumni Jurnalistik Universitas Padjadjaran ini telah melahirkan berbagai karya yang akrab di telinga masyarakat, seperti Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Garuda di Dadaku, Sang Penari, Negeri 5 Menara, hingga Keluarga Cemara. Pengalamannya mengadaptasi karya sastra ke layar lebar pun membuat kehadirannya di Puncak Kalpasastra 2026 terasa begitu relevan dengan tema yang diusung tahun ini.

Namun, sebelum berbicara mengenai film dan adaptasi, Salman lebih dulu mengajak peserta mengenal perjalanan hidupnya. Di hadapan peserta, ia mengaku bahwa kecintaannya terhadap film sudah tumbuh sejak berusia lima tahun. Meski akhirnya memilih menempuh pendidikan di Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran, film tetap menjadi cinta pertamanya.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

“S-1 gue jurnalistik, tapi gue mencintai film sejak umur lima tahun. Film adalah cinta pertama gue. Karier pertama gue adalah puisi, karier pertama yang gue kejar adalah jadi anak band,” ungkap Salman Aristo disambut senyum para peserta.

Menurut Salman, pilihannya masuk ke dunia jurnalistik juga berangkat dari satu alasan sederhana, yaitu keinginan untuk bercerita. Baginya, jurnalistik mengajarkan bahwa sebuah fakta tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap angka dan setiap peristiwa, selalu ada manusia dengan kisah yang patut dipahami.

Pandangan itu kemudian terus ia bawa ketika beralih menjadi penulis skenario. Jika seorang wartawan bertugas melaporkan apa yang sudah terjadi, maka penulis skenario justru membangun pengalaman tentang apa yang akan terjadi. Keduanya sama-sama bercerita, hanya saja menggunakan medium yang berbeda.

Dari sanalah pembahasan mengenai adaptasi karya sastra dimulai. Salman membuka diskusi dengan satu gagasan yang sederhana, tetapi membekas di benak banyak peserta, yakni “semua gerak seni saling terhubung.” Menurutnya, film bukan sekadar tontonan visual. Film juga dapat “dibaca” layaknya sebuah teks yang menyampaikan gagasan melalui adegan, dialog, maupun visual.

Baginya, proses adaptasi bukan sekadar mengikuti tren ataupun mencari keuntungan semata. Adaptasi menjadi cara agar sebuah karya terus hidup dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang melalui medium yang berbeda. Karena itu, mengadaptasi sebuah novel ke layar lebar bukan berarti menyalinnya begitu saja, melainkan menerjemahkan kembali cerita tersebut ke dalam bahasa film.

Tentu saja proses itu tidak selalu mudah. Salman menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam adaptasi terletak pada perbedaan medium. Novel memiliki ruang yang luas untuk membangun cerita, sedangkan film dibatasi oleh durasi sehingga tidak semua bagian dapat dipindahkan begitu saja ke layar lebar.

Menurutnya, ada beberapa pendekatan dalam proses adaptasi. Sebuah film bisa saja hanya meminjam judul atau salah satu tokohnya (borrowing), mengambil sebagian besar isi cerita dari novel, atau memilih tetap setia pada karya aslinya. Namun, yang paling penting bukanlah seberapa mirip hasil adaptasi dengan novel, melainkan cerita apa yang ingin disampaikan melalui medium baru tersebut.

“Whats the point about making film in the same on the novel?” ujarnya.

Hal serupa juga berlaku pada ekspektasi penonton. Banyak pembaca berharap karakter dalam film akan sama persis seperti yang mereka bayangkan saat membaca novel. Namun, menurut Salman, setiap orang memiliki imajinasi yang berbeda sehingga mustahil untuk memenuhi seluruh ekspektasi tersebut.

“Kami juga nggak tahu ekspektasi kalian seperti apa, karena kami nggak kenal satu per satu,” ungkapnya sambil mengundang tawa peserta.

Karena itu, Salman mengajak peserta untuk menikmati karya sesuai mediumnya. Novel dan film bukanlah dua karya yang saling bersaing, melainkan dua cara berbeda dalam menyampaikan cerita. Keduanya memiliki kekuatan masing-masing yang justru membuat sebuah karya dapat terus hidup dan berkembang.

Semua gerak seni saling terhubung.” –  Salman Aristo

Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan yang paling membekas sepanjang Gelar Wicara. Sebab, apa yang disampaikan Salman terasa selaras dengan keseluruhan rangkaian Puncak Kalpasastra 2026. Sastra tidak berhenti di halaman buku. Ia dapat menjelma menjadi film, musik, teater, hingga berbagai bentuk seni lainnya tanpa kehilangan makna yang ingin disampaikan.

Diskusi pun ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan interaktif. Beragam pertanyaan dari peserta membuat pembahasan semakin hidup, mulai dari proses kreatif menulis skenario hingga tantangan mengadaptasi karya sastra ke layar lebar. Antusiasme tersebut menjadi penutup yang manis sebelum rangkaian pertunjukan seni kembali mengambil alih panggung.

Kembali Lagi dengan Penampilan Seni, Sasya Menyanyi Menghibur Suasana

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Penampilan solo vokal dari Sasya menjadi pembuka setelah jeda istirahat. Tiga lagu, yaitu Laskar Pelangi, Ibu Pertiwi, dan Risk It All, dibawakannya dengan effortless sehingga sukses menghangatkan suasana sekaligus mengajak penonton ikut menikmati setiap lirik yang dinyanyikan.

BANDTROCK Ikut Tampil Penuh Energi, Ciptakan Suasana Asik 

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Kalau ada satu penampilan yang sukses mengubah suasana aula dalam sekejap, mungkin Bandtrock adalah salah satunya. Sejak lagu pertama dimainkan, tepuk tangan dan suara penonton mulai memenuhi ruangan. Lagu-lagu dari Perunggu, The Changcuters, hingga rumahsakit dibawakan dengan penuh energi dan berhasil membuat suasana semakin hidup. Penampilan mereka terasa lepas, percaya diri, dan menjadi salah satu momen yang paling mencuri perhatian sepanjang acara.

Berbeda dengan penampilan sebelumnya yang penuh semangat, Teater Zat justru membawa suasana menjadi lebih tenang.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Lewat sebuah drama solo yang mengangkat kisah hubungan ayah dan anak. Cerita tersebut menggambarkan perjalanan seorang anak yang memilih menempuh jalannya melalui seni. Ceritanya tentang persetujuan orang tua dalam memilih karier anak. Akting yang kuat dan penyampaian emosi yang mendalam membuat banyak penonton larut mengikuti jalannya pertunjukan.

Menjelang penghujung acara, Bengkel Sastra menampilkan musikalisasi puisi oleh Nadakata. Perpaduan musik, puisi, dan ekspresi panggung menjadi penutup yang manis sekaligus kembali menegaskan bahwa sastra memang dapat dinikmati melalui banyak medium.

Tak hanya menghadirkan hiburan, Kalpasastra juga memberikan apresiasi kepada para peserta melalui pengumuman pemenang lomba cipta cerpen, cipta puisi, dan baca cerpen. Momen tersebut disambut hangat dengan tepuk tangan dari para peserta yang memenuhi aula.

Keseruan Puncak Kalpasastra 2026 belum berhenti sampai di situ. Menjelang penutupan, sesi doorprize sukses mencairkan suasana. Antusiasme peserta terlihat saat mereka berebut kesempatan menjawab pertanyaan dari panitia demi membawa pulang hadiah. Tawa, tepuk tangan, dan sorak sorai yang memenuhi aula menjadi penutup yang manis setelah seharian menikmati seluruh rangkaian acara.

Satu hari rasanya memang belum cukup untuk merangkum seluruh keseruan Puncak Kalpasastra 2026. Namun, dari setiap diskusi, pertunjukan, hingga interaksi yang tercipta sepanjang acara, satu hal terasa jelas: sastra tidak pernah membatasi dirinya pada satu bentuk. Ia bisa hadir lewat buku, film, musik, teater, bahkan ruang-ruang sederhana yang mempertemukan orang-orang dengan kecintaan yang sama terhadap seni.

Jadi, Edufriend, kalau suatu saat nanti Kalpasastra kembali hadir, jangan hanya mendengar ceritanya dari orang lain. Datang dan rasakan sendiri bagaimana setiap penampilannya mampu menghidupkan makna di balik setiap karya. Mungkin, di sanalah lo akan menemukan bahwa sastra ternyata jauh lebih dekat dan lebih hidup dari yang selama ini dibayangkan!

 

 

Writer: Luthfiyyah Nur Rizky

Editor: Tim News Director