Kinosuite International Dorong Film Indonesia Menembus Panggung Global

(Sumber: Dokumentasi Kinosuite)

Halo, Edufriend! Industri film Indonesia terus bergerak maju. Produksi film meningkat, festival semakin banyak, dan minat penonton terus tumbuh. Namun, di balik perkembangan tersebut, masih ada persoalan mendasar yang belum terjawab sepenuhnya, yaitu tentang bagaimana film Indonesia bisa memiliki jalur distribusi luar negeri yang berkelanjutan, dan bagaimana sinema dunia dapat beredar lebih merata di dalam negeri.

Persoalan infrastruktur inilah yang kini coba dijawab oleh Kinosuite International, Edufriend! Organisasi yang bermula dari ruang pemutaran kecil ini perlahan bertransformasi menjadi institusi sinema multidivisi yang bertujuan menghubungkan sinema Indonesia dengan ekosistem global secara lebih terstruktur dan jangka panjang. Penasaran dengan perjalanan Kinosuite menjadi sebuah institusi sinema? Simak artikelnya sampai habis!

Berawal dari Ruang Kecil di Jakarta Selatan

Edufriend, Kinosuite pertama kali hadir pada 2021 sebagai program pemutaran film berbasis komunitas di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Kala itu, pemutaran dilakukan secara sederhana, kerap menggunakan ruang-ruang non-konvensional dengan kapasitas terbatas. Meski demikian, respons penonton menunjukkan adanya kebutuhan akan ruang sinema yang terkurasi dan berbasis diskusi.

Nah, dalam dua tahun, inisiatif tersebut kemudian berkembang menjadi Kinosuite Secret Cinema, dengan program yang semakin beragam. Film indie lokal, film pendek mahasiswa, karya internasional, hingga retrospektif kurasi mulai dipertemukan dalam satu ruang. Seiring waktu, kedutaan dan organisasi budaya pun mulai menjadikan Kinosuite sebagai mitra, memosisikannya sebagai platform lokal untuk pertukaran dan diplomasi film.

Perkembangan ini pun turut mengungkap persoalan yang lebih besar dalam industri film Indonesia. Talenta dan audiensnya sebenarnya tersedia, tetapi jalur distribusi dan sirkulasi film masih terbatas. Banyak film berhenti perjalanannya setelah festival, sementara film asing masuk ke Indonesia melalui pemutaran yang terpisah-pisah dan tidak berkelanjutan.

Transformasi Besar di JAFF Market 2025

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kinosuite International telah mengumumkan transformasi organisasinya pada JAFF Market 2025. Langkah ini menandai perubahan Kinosuite dari sekadar penyelenggara pemutaran dan festival menjadi institusi sinema dengan struktur yang saling terhubung.

Salah satu langkah strategisnya adalah pembentukan Divisi Distribusi dan World Sales, yang dipimpin oleh Axel Azarya sebagai Head of Distribution dan Alya R. Kinanti sebagai Head of Acquisitions. Divisi ini menangani berbagai aspek penting, mulai dari sirkulasi teater, penempatan festival, manajemen hak, relasi dengan pembeli internasional, hingga pengelolaan arsip film Kinosuite yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Salah satu keunggulan Kinosuite ini terletak pada katalog internalnya, lho, Edufriend. Berbagai film yang pernah diputar dan dikurasi telah memiliki materi promosi, data audiens, serta relasi langsung dengan pembuat film. Hal ini memungkinkan Kinosuite memasuki ranah world sales dengan pondasi yang sudah terbentuk, jadi nggak harus mulai dari nol lagi deh. 

Ekshibisi Nasional sebagai Infrastruktur Budaya

Nggak sampai disitu aja, Edufriend. Di dalam negeri, Kinosuite memperkuat perannya melalui Divisi Exhibition yang dipimpin oleh Farrel Obieza dan Callista Teresa. Divisi ini mengelola pemutaran sepanjang tahun, kemitraan teater, showcase keliling, serta pemutaran berbasis komunitas di berbagai kota.

Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa pengalaman sinema yang berkualitas tidak seharusnya terpusat di Jakarta. Dengan jaringan ekshibisi yang lebih merata, penonton di berbagai daerah diharapkan dapat mengakses film-film yang selama ini tertutup oleh dominasi arus komersial.

Selain Kinosuite Secret Cinema sebagai program unggulan di Jakarta, Kinosuite juga mengembangkan berbagai sub-program ekshibisi, termasuk Nusantara Insight Film Festival (NIFF). Program ini dirancang untuk membawa film Indonesia ke kota-kota internasional sekaligus memperkuat jejaring sinema di dalam negeri. Pada 2026, NIFF direncanakan hadir di Amsterdam, Athena, Manila, dan Seoul. Wah, nggak main-main ya strategi yang dirancang Kinosuite!

Kinosuite Consulate dan Diplomasi Budaya

Karena sirkulasi film nggak cuma soal distribusi, Kinosuite juga membentuk unit urusan internasional bernama Kinosuite Consulate. Unit ini dipimpin oleh Jerell Michael Cussoy-Poluan sebagai Head of International Relations dan Thirza “Zaza” Toni sebagai Head of International Affairs, dengan dukungan atase konsulat.

Peran Kinosuite Consulate ini mencakup pembangunan relasi jangka panjang dengan kedutaan, institusi budaya, festival, dan pasar film internasional. Pendekatan yang diambil bukan kemitraan satu kali, melainkan penciptaan jalur pertukaran budaya yang berkelanjutan. Ke depan, Kinosuite juga merencanakan pembentukan “mini-consulates” di berbagai kota dunia sebagai pos budaya yang aktif menggelar pemutaran, residensi, dan pertemuan industri.

Filosofi “Republik Sinema”

Nah, program-program yang dari tadi kita bahas sebenarnya lahir dari visi Presiden Kinosuite International, lho, yaitu Julio Rionaldo. Ia memandang sinema bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya lintas generasi yang membutuhkan sistem perlindungan jangka panjang.

Bagi Julio, sebuah film dapat bertahan bukan hanya karena kualitas artistiknya, tetapi karena adanya infrastruktur yang menopangnya, mulai dari distribusi, ekshibisi, hingga diplomasi budaya. Dalam kerangka ini, Kinosuite diposisikan sebagai sebuah “republik sinema”, dimana setiap divisi memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem film. Pendekatan ini tercermin dalam cara kerja Kinosuite. Fokusnya bukan semata pada keuntungan jangka pendek atau visibilitas sesaat, melainkan pada pembangunan sistem yang mampu bertahan melampaui tren dan pergantian kepemimpinan.

Menjawab Tantangan Sinema Asia Tenggara

Edufriend, apa yang dibangun Kinosuite tadi merupakan respons langsung terhadap persoalan lama sinema Asia Tenggara, yaitu banyaknya talenta tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Dengan menggabungkan festival, distribusi, world sales, ekshibisi nasional, jalur pengembangan talenta, serta jaringan diplomasi budaya dalam satu ekosistem. Kita akhirnya tahu bahwa Kinosuite mencoba menawarkan solusi yang bersifat fungsional. 

Bagi industri film Indonesia, langkah ini membuka kemungkinan baru. Film tidak lagi berhenti di layar festival, tetapi memiliki perjalanan yang lebih panjang, menemukan penonton lintas negara dan membangun kehadiran yang konsisten di panggung global.

Harapan untuk Masa Depan

Keberhasilan Kinosuite International tentu akan bergantung pada sumber daya, kemitraan, dan konsistensi eksekusi. Namun, upaya membangun infrastruktur sinema secara terpadu ini menunjukkan bahwa masa depan film Indonesia nggak cuma soal produksi karya, tetapi juga tentang bagaimana karya tersebut dirawat, diedarkan, dan diwariskan.

Jadi, kalau visi ini berjalan sesuai rencana, Indonesia nggak akan jadi persinggahan dalam peta sinema dunia lagi, tetapi justru berpotensi menjadi salah satu pusatnya, lho, Edufriend. Inisiatif seperti ini bisa menjadi batu loncatan baru bagi sineas muda Indonesia untuk belajar, berkolaborasi, dan meraih peluang internasional. Bukan sekadar “tampil di panggung”, tetapi membangun karier film yang berdampak jarak jauh. 

So, kita tunggu dan dukung terus langkah-langkah Kinosuite ke depan dalam membentuk perjalanan film Indonesia di panggung global, ya, Edufriend!

 

 

Writer: Andini Haniyatur Riza 

Editor: Tim News Director