
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Jakarta— Halo Edufriend! Pementasan teater Sang Petinju dan Malaikat yang dipersembahkan oleh Diorama Project 4.0 sukses digelar di Aula Maftuchah, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Kampus A, pada Selasa (28/7/2026) pukul 16.00 WIB. Mengadaptasi naskah Sang Malaikat dan Petinju karya Seno Joko Suyono, pertunjukan ini mengajak penonton menyaksikan perjalanan yang dipenuhi simbol, emosi, dan berbagai pertanyaan tentang manusia serta keyakinannya.
Pementasan dibuka dengan pencahayaan yang minim dan iringan musik yang langsung membangun suasana. Sepanjang pertunjukan, perubahan cahaya dan efek suara digunakan untuk menandai perpindahan adegan tanpa banyak mengubah tata panggung. Penonton mengikuti jalannya pertunjukan dengan tenang hingga tepuk tangan menutup penampilan.
Atmosfer Sasana Tinju Bangun Intensitas Pertunjukan
Berbeda dengan pementasan yang mengandalkan banyak properti, panggung hanya menampilkan sebuah sasana tinju sebagai latar utama. Ring tinju di tengah panggung menjadi titik fokus yang merepresentasikan arena pertarungan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. Ruang tersebut dimanfaatkan untuk memperlihatkan hubungan antartokoh, konflik, hingga dilema moral yang menjadi bagian dari cerita. Tata panggung yang sederhana membuat fokus penonton tetap tertuju pada permainan aktor.
Penyampaian cerita tidak berlangsung secara runtut. Beberapa adegan disusun melalui simbol, dialog, dan perpindahan adegan yang memberi ruang bagi penonton untuk menafsirkan makna di balik peristiwa yang ditampilkan. Arena yang semestinya menjadi tempat adu kekuatan fisik perlahan menjelma menjadi ruang pergulatan batin, tempat kecemasan, fanatisme, dan keyakinan yang saling berbenturan.
Akting dan Unsur Artistik Perkuat Penyampaian Pesan
Permainan para aktor menjadi salah satu unsur yang mendukung jalannya pementasan. Ekspresi, gestur, serta intonasi dialog yang konsisten membuat dinamika antartokoh tetap terjaga meskipun sebagian besar adegan berlangsung di area ring. Tata cahaya dan musik juga digunakan untuk memperkuat perubahan suasana pada setiap bagian pertunjukan. Melalui pemanfaatan sasana tinju sebagai pusat pertunjukan, pementasan berhasil membangun pengalaman yang imersif sekaligus memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Melalui pementasan Sang Petinju dan Malaikat, Diorama Project 4.0 menghadirkan sebuah pertunjukan dengan pendekatan panggung yang sederhana, tetapi tetap memaksimalkan unsur akting dan artistik. Adaptasi ini tidak hanya menjadi sajian seni pertunjukan, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk memaknai berbagai isu yang diangkat selama pementasan berlangsung.
Yuk, Edufriend, terus dukung perkembangan seni pertunjukan dengan hadir dan mengapresiasi karya-karya teater yang ada di lingkungan kampus!
Writer: Keysha Lintang Tafanti
Editor: Tim News Director








