Pameran TRANSISI: Ruang Rasa dari Berbagai Sudut Tumbuh
Poster utama pameran TRANSISI yang menyambut pengunjung saat baru memasuki venue. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Jakarta– Hello, Edufriend! Edufriend Pernah nggak sih lo ngerasa bahkan sampai di titik kalau proses “tumbuh” yang kalian rasakan itu nggak pernah sama antara satu orang dengan orang lain? Nah, perasaan itu yang coba diangkat lewat pameran fotografi bertajuk TRANSISI, yang digagas oleh UKM LSPR Photography. Yang dimana dalam pameran ini Bukan sekadar pajangan karya, pameran ini ingin jadi ruang buat mendengar, memahami, dan merasakan proses tumbuh dari sudut pandang yang berbeda-beda.
Ruang Kecil yang Menyimpan Banyak Cerita
Pameran ini berlangsung selama dua hari, 4–5 Juli 2026, bertempat di Ruang Analog, Grand Wijaya Centre, Jakarta Selatan. Jadi Edufriend Begitu masuk, pengunjung disambut poster besar yang menjelaskan makna TRANSISI: sebuah undangan buat menyadari bahwa setiap perjalanan meninggalkan jejak, bahwa kenyamanan hadir ketika dibangun bersama, dan bahwa tidak semua cerita harus selesai untuk memiliki makna.
Total ada 16 artis yang ikut ambil bagian, masing-masing membawa cerita transisinya sendiri lewat medium yang beda-beda ada yang lewat rumah, makanan, hingga cermin rias. Yang diaman Suasana venue-nya sendiri cukup interaktif, lo. Selama dua hari, pengunjung datang silih berganti, sebagian mengobrol langsung dengan sang artis buat ngobrolin cerita di balik karya mereka.
Suasana pameran yang hangat, di mana pengunjung bisa berdiskusi langsung dengan sang artis. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ragam Wajah dari Satu Kata: Transisi
Salah satu karya yang cukup menyentuh datang dari Nayla Putri Yunanda lewat karyanya, “Rumah Tak Lagi Sama”. Lewat rangkaian foto personal, ia bercerita tentang bagaimana makna rumah berubah usai sang ayah tiada. Rumahnya masih terlihat sama seperti dulu dinding, sudut ruangan, semuanya masih bisa dikenali tapi ada sesuatu yang terasa hilang dan sulit ditemukan lagi. Namun dari rasa kehilangan itu, ia justru belajar betapa besar peran cinta dan dukungan keluarga dalam membentuk keberanian, ketahanan, dan cara memandang diri sendiri untuk terus melangkah.
Karya “Rumah Tak Lagi Sama” milik Nayla Putri Yunanda, mengangkat kisah transisi lewat kehilangan dan makna rumah yang berubah. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ada juga karya “Berakar” dari Cantiqa Aurella Syawali Zahra, yang mengangkat sisi lain dari transisi: keberanian meninggalkan zona nyaman. Karya ini merepresentasikan seseorang yang tumbuh dalam keluarga hangat dan penuh rasa aman, tapi tetap merasa gelisah untuk keluar dan mencari jati diri di luar ruang yang selama ini jadi tempatnya berlindung. Rasa semangat untuk bertumbuh dan rasa takut kehilangan kenyamanan hadir berbarengan, saling bertabrakan. Karya ini seolah mengingatkan bahwa manusia memang cenderung berakar pada hubungan yang memberi rasa aman, tapi pertumbuhan sering kali mengajak kita melangkah keluar dari sana tanpa perlu melupakan akar yang membentuk diri kita.
Karya “Berakar” milik Cantiqa Aurella Syawali Zahra, menggambarkan pergolakan antara zona nyaman dan keinginan untuk mandiri. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Yang tak kalah menarik, ada karya bertajuk “Cermin Afirmasi” dari Virgie Audrey. Karya ini menceritakan perjalanan panjangnya yang sempat merasa minder karena masalah kulit wajah dan pernah dikucilkan semasa sekolah, hingga sempat memutuskan hiatus dari dunia pendidikan selama satu tahun. Dari titik itu, ia perlahan bangkit dengan mempelajari cara merawat kulit dan merias wajah secara otodidak, sampai akhirnya menemukan kepercayaan diri yang selama ini ia cari. Sebagai penulis sekaligus pengunjung yang sempat melihat langsung karya ini, jujur aja rasanya ingin bilang: proses jatuh cinta pada diri sendiri memang nggak pernah instan, tapi karya Virgie jadi bukti kalau itu mungkin dan pantas untuk diapresiasi.
Meja rias milik Virgie Audrey lengkap dengan catatan afirmasi diri, simbol perjalanan menemukan kepercayaan diri. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Tiga karya ini cuma sebagian kecil dari 16 cerita yang ada di TRANSISI, tapi udah cukup nunjukkin satu hal: transisi itu nggak punya bentuk yang sama buat semua orang. Ada yang datang lewat kehilangan, ada yang lewat keberanian, dan ada juga yang datang lewat proses menerima diri sendiri apa adanya.
Bertumbuh, dengan Cara Masing-Masing
Dari poster utama hingga karya-karya yang dipajang, TRANSISI berhasil menyampaikan pesan yang sama lewat cara yang berbeda-beda: bahwa dewasa bukan soal mencapai garis akhir, melainkan tentang terus menghuni setiap perubahan dengan utuh. Nggak semua transisi terasa nyaman, kadang justru menyakitkan atau bikin ragu, tapi justru dari situlah kita belajar buat memahami diri sendiri lebih dalam, sekaligus menghargai proses orang lain yang mungkin nggak sama dengan proses kita sendiri.
Gimana, Edufriend? Kalau lo lagi ngerasa ada di tengah-tengah “transisi” sendiri, semoga cerita-cerita di pameran ini bisa jadi pengingat kalau lo nggak sendirian menjalaninya.
Writer: Faiq Alwi Effendi
Editor: Tim News Director
